Rabu, 08 Mei 2024

Korban Syukur yang Berkenan


Ayat Bacaan : Yesaya 1:10-20

Saudara-saudariku yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus, Shalom!

TUHAN itu setia bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Ia selalu merahmati setiap kehidupan kita dengan kasih-Nya yang begitu sempurna.

Tidak jemu-jemu kebaikannya, nafas kehidupan dan berkat senantiasa dilimpahkan-Nya.  Apa yang dapat kita beri selain puji syukur, hormat, dan pengabdian diri yang penuh pada-Nya.

Namun manusia sebagai ciptaan seringkali lupa akan keberadaan ALLAH. Manusia hidup dalam kepura-puraan dan penyembahan yang setengah hati. Mulut kita cenderung mengaku nama TUHAN, tetapi sikap dan perbuatan tidak menunjukkan kualitas yang sama karena masih hidup di dalam dosa.

Ibadah dianggap sebagai rutinitas belaka. Doa dan Firman tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh. Bahkan persembahan dan perpuluhan diberikan begitu banyaknya namun tidak dilandasi dengan penyerahan diri yang utuh kepada TUHAN. Pemaknaan akan kebesaran ALLAH menjadi hampa.

Manusia mendengar perintah TUHAN tetapi tebal telinga. Perbuatannya jauh dari kebaikan. Manusia menikmati kejahatan dosa. Iri hati dan dengki masih menguasai hati daripada kasih dan pengampunan. Rancangan jahat dan sifat serakah hanya berujung pada pencurian, zinah, bahkan pembunuhan.

Saudaraku yang dihiburkan dengan firman ALLAH,

Perikop Yesaya 1:10-20 yang kita baca di saat ini mau menyampaikan apa yang sebenarnya TUHAN rasakan terhadap ketidaktaatan umat-Nya. Ia dengan tegas menegur sikap acuh dan kemunafikan bangsa Israel.

Dalam perjanjian lama, persembahan kepada ALLAH biasanya diberikan dalam bentuk korban bakaran. Tujuan korban bakaran sebagai bentuk ungkapan syukur dan pengabdian diri kepada-Nya.

Dalam pembacaan kita, TUHAN melihat bahwa umat-Nya mempersembahkan begitu banyak korban bakaran. Mulai dari domba jantan, lemak anak lembu yang gemuk, hingga darah kambing domba.  Namun semua itu adalah kejijikan baginya. Ia tidak menerima semua persembahan tersebut.

Kenapa ALLAH begitu tegas menyatakan itu semua? Karena ia melihat umat-Nya sudah terbiasa dengan dosa dan tidak sungguh-sungguh menghargai kesucian TUHAN. 

Mereka datang ke hadirat TUHAN dan menginjakkan kaki di Bait Suci padahal tetap melakukan kekejian dan dosa di hadapan-Nya. Ia tidak tahan dan membenci itu semua.

Ia memalingkan wajah dari doa umat-Nya. Bahkan doa yang disampaikan berulang kali sekalipun tidak diindahkan-Nya. Bangsa Israel menyembah alah lain, mementingkan diri sendiri dan mendua hati dari pada-Nya.

TUHAN adalah ALLAH yang cemburu. Segala sesuatu ia ciptakan sungguh amat baik, jangan ada allah lain yang disembah selain nama-Nya (Keluaran 34:14). Ia tidak segan memberkati dengan melimpah, tetapi keadilan dan hukuman akan berlaku bagi mereka yang memberontak daripada-Nya.

Saudaraku yang terkasih,

Pesan TUHAN kepada umat Israel melalui nabi Yesaya juga diberikan kepada kita di zaman ini. Ia menegur kecenderungan kita yang berbuat jahat tetapi terus hidup dalam dosa. Ibadah dan doa kita tidak akan berkenan kepada-Nya.

Sebaliknya, TUHAN menghendaki kita untuk membersihkan diri dan menjauhi kejahatan. Ia ingin kita baik, mengusahakan keadilan, mengendalikan orang kejam, serta membela hak anak-anak yatim dan para janda (Yesaya 1:16-17).

Di zaman perjanjian baru ini kita sudah dibebaskan oleh dosa. Keselamatan kita sudah ditanggung oleh Tuhan Yesus di kayu salib. Pengorbanan-Nya telah meluluh lantakkan sekat antara manusia dengan TUHAN. Yesus merupakan korban bakaran, Anak Domba ALLAH. 

Yang perlu kita lakukan adalah hidup dalam kebenaran dan menjauhi dosa. Datang di hadapan TUHAN dan bertobat. Karena sekalipun dosa kita merah seperti kirmizi akan menjadi putih seperti salju, sekalipun merah seperti kain kesumba akan putih seperti salju (Yesaya 1:18).

Saudara-saudariku,

Ingatlah selalu bahwa TUHAN penuh kasih setia. Berkat dan damai sejahtera akan kita rasakan bila kita hidup dalam kebaikan, kebenaran, dan keadilan. TUHAN membenci orang-orang yang terus hidup dalam dosa. Jauhilah kejahatan dan jagalah kesucian diri. Janganlah hidup dalam kemunafikan.

Tak segan-segan ia menghukum, tetapi dengan tangan terbuka ia menyambut siapa saja yang mau berbalik dan mengaku dosa di hadapan-Nya. Bahkan dosa yang berat sekalipun. Semerah apapun dosamu akan diubahkan menjadi putih seperti salju.

Percayalah bahwa setiap doa kita akan berkenan dan didengar, korban syukur kita pun akan berbau harum dan diterima di pelataran-Nya. Ia akan memerintahkan berkat dan damai sejahtera masuk di dalam kehidupan kita untuk menjadi saluran bagi sesama.

Persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan berkenan kepada ALLAH. Itulah ibadahmu yang sejati (Roma 12:1). Amin, Haleluya!

renungan harian kristen, renungan rohani kristen, penjelasan yesaya 1:10-20, korban bakaran, korban syukur, kekejian korban syukur, kekejian korban bakaran, renungan korban bakaran, renungan pertobatan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kuasa Dalam Perapian Yang Menyala-nyala

Ayat Bacaan : Daniel 3:1-30 Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, Shalom! ALLAH menginginkan kita untuk percaya kepada-...