Ayat Bacaan : Yesaya 1:10-20
Saudara-saudariku yang terkasih di dalam Tuhan
Yesus Kristus, Shalom!
TUHAN itu setia bahwasanya untuk selama-lamanya
kasih setia-Nya. Ia selalu merahmati setiap kehidupan kita dengan kasih-Nya
yang begitu sempurna.
Tidak jemu-jemu kebaikannya, nafas kehidupan
dan berkat senantiasa dilimpahkan-Nya. Apa
yang dapat kita beri selain puji syukur, hormat, dan pengabdian diri yang penuh
pada-Nya.
Namun manusia sebagai ciptaan seringkali lupa
akan keberadaan ALLAH. Manusia hidup dalam kepura-puraan dan penyembahan yang setengah hati. Mulut kita
cenderung mengaku nama TUHAN, tetapi sikap dan perbuatan tidak menunjukkan
kualitas yang sama karena masih hidup di dalam dosa.
Ibadah dianggap sebagai rutinitas belaka. Doa dan Firman tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh. Bahkan persembahan dan perpuluhan diberikan begitu banyaknya namun tidak dilandasi dengan penyerahan diri yang utuh kepada TUHAN. Pemaknaan akan kebesaran ALLAH menjadi hampa.
Manusia mendengar perintah TUHAN tetapi tebal
telinga. Perbuatannya jauh dari kebaikan. Manusia menikmati kejahatan dosa. Iri
hati dan dengki masih menguasai hati daripada kasih dan pengampunan. Rancangan jahat
dan sifat serakah hanya berujung pada pencurian, zinah, bahkan pembunuhan.
Saudaraku yang
dihiburkan dengan firman ALLAH,
Perikop Yesaya 1:10-20 yang kita baca di saat
ini mau menyampaikan apa yang sebenarnya TUHAN rasakan terhadap ketidaktaatan
umat-Nya. Ia dengan tegas menegur sikap acuh dan kemunafikan bangsa Israel.
Dalam perjanjian lama, persembahan kepada ALLAH biasanya diberikan dalam bentuk korban bakaran. Tujuan korban bakaran sebagai bentuk ungkapan syukur dan pengabdian diri kepada-Nya.
Dalam pembacaan kita, TUHAN melihat bahwa umat-Nya mempersembahkan
begitu banyak korban bakaran. Mulai dari domba jantan, lemak anak lembu yang
gemuk, hingga darah kambing domba. Namun
semua itu adalah kejijikan baginya. Ia tidak menerima semua persembahan
tersebut.
Kenapa ALLAH begitu tegas menyatakan itu semua? Karena ia melihat umat-Nya sudah terbiasa dengan dosa dan tidak sungguh-sungguh menghargai kesucian TUHAN.
Mereka datang ke hadirat TUHAN dan menginjakkan kaki di Bait
Suci padahal tetap melakukan kekejian dan dosa di hadapan-Nya. Ia tidak tahan
dan membenci itu semua.
Ia memalingkan wajah dari doa umat-Nya.
Bahkan doa yang disampaikan berulang kali sekalipun tidak diindahkan-Nya.
Bangsa Israel menyembah alah lain, mementingkan diri sendiri dan mendua hati
dari pada-Nya.
TUHAN adalah ALLAH yang cemburu. Segala sesuatu
ia ciptakan sungguh amat baik, jangan ada allah lain yang disembah selain
nama-Nya (Keluaran 34:14). Ia tidak segan memberkati dengan melimpah, tetapi
keadilan dan hukuman akan berlaku bagi mereka yang memberontak daripada-Nya.
Saudaraku yang terkasih,
Pesan TUHAN kepada umat Israel melalui nabi
Yesaya juga diberikan kepada kita di zaman ini. Ia menegur kecenderungan kita
yang berbuat jahat tetapi terus hidup dalam dosa. Ibadah dan doa kita tidak
akan berkenan kepada-Nya.
Sebaliknya, TUHAN menghendaki kita untuk
membersihkan diri dan menjauhi kejahatan. Ia ingin kita baik, mengusahakan
keadilan, mengendalikan orang kejam, serta membela hak anak-anak yatim dan para
janda (Yesaya 1:16-17).
Di zaman perjanjian baru ini kita sudah dibebaskan oleh dosa. Keselamatan kita sudah ditanggung oleh Tuhan Yesus di kayu salib. Pengorbanan-Nya telah meluluh lantakkan sekat antara manusia dengan TUHAN. Yesus merupakan korban bakaran, Anak Domba ALLAH.
Yang perlu kita lakukan adalah hidup dalam
kebenaran dan menjauhi dosa. Datang di hadapan TUHAN dan bertobat. Karena
sekalipun dosa kita merah seperti kirmizi akan menjadi putih seperti salju,
sekalipun merah seperti kain kesumba akan putih seperti salju (Yesaya 1:18).
Saudara-saudariku,
Ingatlah selalu bahwa TUHAN penuh kasih setia.
Berkat dan damai sejahtera akan kita rasakan bila kita hidup dalam kebaikan,
kebenaran, dan keadilan. TUHAN membenci orang-orang yang terus hidup dalam
dosa. Jauhilah kejahatan dan jagalah kesucian diri. Janganlah hidup dalam
kemunafikan.
Tak segan-segan ia menghukum, tetapi dengan
tangan terbuka ia menyambut siapa saja yang mau berbalik dan mengaku dosa di
hadapan-Nya. Bahkan dosa yang berat sekalipun. Semerah apapun dosamu akan
diubahkan menjadi putih seperti salju.
Percayalah bahwa setiap doa kita akan berkenan
dan didengar, korban syukur kita pun akan berbau harum dan diterima di
pelataran-Nya. Ia akan memerintahkan berkat dan damai sejahtera masuk di dalam
kehidupan kita untuk menjadi saluran bagi sesama.
Persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan
yang hidup, yang kudus dan berkenan kepada ALLAH. Itulah ibadahmu yang sejati
(Roma 12:1). Amin, Haleluya!
renungan harian kristen, renungan rohani kristen, penjelasan yesaya 1:10-20, korban bakaran, korban syukur, kekejian korban syukur, kekejian korban bakaran, renungan korban bakaran, renungan pertobatan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar