Saudara-saudariku
yang terkasih dalam Tuhan Yesus, Shalom!
Dalam
menghadapi kematian, tentu semua orang tidak tahu kapan datangnya. Itu adalah
misteri yang hanya TUHAN ketahui. Saat waktunya tiba, kita akan meninggalkan
segala harta, kehormatan, jabatan, bahkan orang-orang yang kita kasihi.
Sebagai
orang percaya, kita beriman bahwa kematian adalah permulaan kehidupan yang kekal
bersama TUHAN di surga. Selama di dunia, kita harus senantiasa mengandalkan dan mengikuti segala kehendak-Nya.
Saudaraku,
Bacaan Alkitab kita di saat ini menceritakan raja Hizkia yang sakit keras. Melalui perantaraan nabi Yesaya, TUHAN menyampaikan fakta bahwa ia akan mati karena penyakitnya tidak bisa disembuhkan.
Mendengar
hal itu, Hizkia sangat sedih hati. Ia meratapi nasibnya dan menangis lalu
memalingkan wajahnya ke dinding dan berdoa. Ia menyampaikan isi hatinya kepada
TUHAN. Di dalam hidupnya, raja senantiasa setia dan tulus hati. Ia melakukan
segala yang baik di mata TUHAN.
Selang
beberapa waktu, TUHAN berfirman dan menyuruh nabi Yesaya untuk pergi kepada
Hizkia bahwa air matanya telah dilihat, doanya-pun telah didengar. TUHAN akan
memperpanjang umur Hizkia hingga lima belas tahun lagi, serta melindungi dia dan
kota Yehuda dari tangan raja Asyur.
Hizkia-pun
menjadi sembuh dari penyakitnya dan menyampaikan syukur dan curahan hatinya
melalui karangan puisi. Ia menceritakan pengalaman imannya. Ia hampir mati,
lalu berdoa minta tolong serta menyerahkan dirinya kepada TUHAN.
Adapun isi
dari karangan raja Hizkia yaitu ia meratapi kematian. Dalam kematian ia tidak
dapat mengucap syukur dan memuji TUHAN. Semuanya itu hanya dapat dilakukan
sewaktu hidup. Inilah yang menjadi poin pembelaan Hizkia dalam doanya agar disembuhkan.
Saudara-saudariku,
Kondisi
Hizkia yang sakit keras dan saat itu dinyatakan tidak akan sembuh oleh TUHAN pernah dialami oleh kita dalam suatu titik kehidupan. Kesedihan mendalam yang dialami melalui sebuah
vonis tentu sangat tidak mengenakan dan tidak sesuai harapan.
Hizkia merasakan rasa terpukul yang sangat luar biasa. Ia berdoa dan bertanya kepada TUHAN. Setiap pelayanan dan pengabdian selama hidupnya akan segera berakhir. Ia tawar menawar dengan TUHAN tentang kondisi kehidupannya.
Mungkin dokter memvonis kita dengan sebuah penyakit, bahkan umurpun dapat dihitung dengan hari. Namun percayalah dalam kesakitan yang kita rasakan, kita harus senantiasa mengucap syukur. Saat sehat kita terus memuliakan TUHAN. Bahkan dalam kesakitan-pun, kita juga terus memuliakan TUHAN.
Hidup yang
kita miliki asalnya daripada TUHAN dan setiap tanggung jawab yang kita terima haruslah dilakukan dengan penuh rasa tanggung jawab. TUHAN berhak untuk memberi
dan mengambil karena dari Dialah sumber segala sesuatu (Ayub 1:21).
Satu hal yang pasti bahwa raja Hizkia masih rindu dalam bersaksi untuk memuji dan memuliakan nama TUHAN. Bila ia mati, seluruh tugasnya di dunia akan selesai.
Ia ingin dipulihkan TUHAN bukan karena harta atau jabatannya sebagai raja, melainkan karena pelayanannya kepada TUHAN yang ingin ia teruskan. Itulah pinta Hizkia dalam doanya. Ia mau terus mengucap syukur dan memuji TUHAN. (Yesaya 38:19).
Kerinduan
untuk melayani TUHAN dan iman yang sungguh merupakan alasan kuat Hizkia
disembuhkan. Apa yang ia rasakan disampaikan melalui doa, dan akhirnya TUHAN
menjawab pergumulan hidupnya. Ia diselamatkan dari ajalnya dan diberikan
kesempatan hidup melayani lima belas tahun lagi.
Saudaraku,
Mungkin
kita juga mengalami kesakitan, atau hidup yang begitu mencekam. Tantangan demi
tantangan datang, namun tetaplah teguh dan jangan hilang harapan. Karena setiap doa dan
syukur kita didengar oleh TUHAN.
Mungkin saat ini doa kita belum dijawab, kita belum diberikan kesembuhan dalam sakit sama seperti raja Hizkia. Tetapi percayalah bahwa di dalam kesakitan kita dapat bersaksi bagi puji dan hormat nama TUHAN.
Sadarilah
bahwa hidup ini adalah kesempatan untuk memuji dan memuliakan TUHAN. Saat
lonceng kematian berbunyi maka selesailah sudah seluruh tugas kita di dunia.
Kita akan diminta pertanggung jawaban akan seluruh perbuatan kita.
Mari miliki
hati dan sikap hidup yang setia dan tulus sama seperti Hizkia. Sampaikan
kegelisahan hati dalam doa. TUHAN pasti akan membukakan jalan, memberi
kehidupan, bahkan memerintahkan berkat yang melimpah dalam hidup kita.
Jadikan
TUHAN sebagi pusat dan motivasi terbesar kita di dalam hidup. Ia akan menyertai
setiap langkah hidup kedepan. Amin, Haleluya
Renungan harian kristen, renungan rohani kristen, bacaan yesaya 38:1-21, cerita alkitab hizkia, renungan hizkia sakit dan dipulihkan, renungan raja hizkia, cerita hizkia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar